oleh : Team Redaksi
Seorang sufi wanita terkenal dari Bahsrah,
Rabi'ah Al- Adawiyah (w.165H) ketika berziarah ke makam Rasul Saw. pernah
mengatakan: "Maafkan aku ya Rasul, bukan aku tidak mencintaimu tapi hatiku
telah tertutup untuk cinta yang lain, karena telah penuh cintaku pada Allah
Swt".
Tentang cinta itu sendiri Rabiah mengajarkan
bahwa cinta itu harus menutup dari segala hal kecuali yang dicintainya. Bukan
berarti Rabiah tidak cinta kepada Rasul, tapi kata-kata yang bermakna simbolis
ini mengandung arti bahwa cinta kepada Allah adalah bentuk integrasi dari semua
bentuk cinta termasuk cinta kepada Rasul.
Jadi mencintai Rasulullah Saw. sudah dihitung
dalam mencintai Allah Swt. Seorang mukmin pecinta Allah pastilah mencintai apa
apa yang di cintai-Nya pula.
Rasulullah pernah berdoa: "Ya Allah
karuniakan kepadaku kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang
mencintai-Mu dan kecintaan apa saja yang mendekatkan diriku pada kecintaan-Mu.
Jadikanlah dzat-Mu lebih aku cintai dari pada air yang dingin."
Selanjutnya Rabiah -yang sangat terpandang
sebagai wali Allah karena kesalehannya- mengembangkan konsep cinta yang menurut
hematnya harus mengikuti aspek kerelaan (ridha), kerinduan (syauq),
dan keakraban (uns). Selain itu ia mengajarkan bahwa cinta kepada Tuhan
harus mengesampingkan dari cinta-cinta yang lain dan harus bersih dari
kepentingan pribadi (dis-interested).
Cinta kepada Allah tidak boleh mengharapkan
pahala atau untuk menghindarkan siksa, tetapi semata-mata berusaha melaksanakan
kehendak Allah, dan melakukan apa yang bisa menyenangkan-Nya, sehingga Ia kita
agungkan. Hanya kepada hamba yang mencintai-Nya dengan cara seperti itu, Allah
akan menyibakkan diri-Nya dengan segala keindahannya yang sempurna.
Rumusan cinta Rabiah dapat di simak dalam doa
mistiknya: "Oh Tuhan, jika aku menyembahmu karena takut akan api
neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembahmu karena berharap
surga, maka campakanlah aku dari sana; Tapi jika aku menyembahmu karena Engkau
semata, maka janganlah engkau sembunyikan keindahan-Mu yang abadi”
Dalam kitab Al-Mahabbah, Imam Al-Ghazali
mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam
spiritual dan ia menduduki derajad/level yang tinggi. "(Allah)
mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya." (QS. [5]: 54). Dalam
tasawuf, setelah di raihnya maqam mahabbah ini tidak ada lagi maqam yang lain
kecuali buah dari mahabbah itu sendiri.Pengantar-pengantar spiritual
seperti sabar, taubat, zuhud, dan lain lain nantinya akan berujung pada mahabatullah
(cinta kepada Allah).
Menurut Sang Hujjatul Islam ini kata mahabbah
berasal dari kata hubb yang sebenarnya mempunyai asal kata habb
yang mengandung arti biji atau inti. Sebagian sufi mengatakan bahwa hubb adalah
awal sekaligus akhir dari sebuah perjalanan keberagamaan kita. Kadang kadang
kita berbeda dalam menjalankan syariat karena mazhab/aliran. Cinta kepada Allah
-yang merupakan inti ajaran tasawuf- adalah kekuatan yang bisa menyatukan
perbedaan-perbedaan itu.
Cinta kepada Allah tidak boleh mengharapkan
pahala atau untuk menghindarkan siksa, tetapi semata-mata berusaha melaksanakan
kehendak Allah, dan melakukan apa yang bisa menyenangkan-Nya, sehingga Ia kita
agungkan. Hanya kepada hamba yang mencintai-Nya dengan cara seperti itu, Allah
akan menyibakkan diri-Nya dengan segala keindahannya yang sempurna.
Rumusan cinta Rabiah dapat di simak dalam doa
mistiknya: "Oh Tuhan, jika aku menyembahmu karena takut akan api
neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembahmu karena
berharap surga, maka campakanlah aku dari sana; Tapi jika aku menyembahmu
karena Engkau semata, maka janganlah engkau sembunyikan keindahan-Mu yang
abadi."
Mencintai Allah bukan
sebatas ibadah vertikal saja (mahdhah), tapi lebih dari itu ia meliputi
segala hal termasuk muamalah. Keseimbangan antara hablun minallah dan hablun
minannas ini pernah di tekankan oleh Nabi Saw. dalam sebuah hadits qudsi: "Aku
tidak menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (khalil), melainkan karena ia memberi
makan fakir miskin dan shalat ketika orang-orang terlelap tidur". Jadi
cinta kepada Allah pun bisa diterjemahkan ke dalam cinta kemanusiaan yang lebih
konkrit, misalnya bersikap dermawan dan memberi makan fakir miskin. Sikap
dermawan inilah yang dalam sejarah telah di contohkan oleh Abu bakar,
Abdurahman bin Auf, dan sebagainya. Bahkan karena cintanya yang besar kepada
Allah mereka memberikan sebagian besar hartanya dan hanya menyisakan sedikit
saja untuk dirinya. Mencintai Allah berarti menyayangi anak-anak yatim,
membantu saudara saudara kita yang di timpa bencana, serta memberi sumbangan
kepada kaum dhuafa dan orang lemah yang lain. Dalam hal ini Rasulullah Saw.
pernah bersabda ketika ditanya sahabatnya tentang kekasih Allah (waliyullah).
Jawab beliau: "Mereka adalah kaum yang saling mencintai karena Allah,
dengan ruh Allah, bukan atas dasar pertalian kerluarga antara sesama mereka dan
tidak pula karena harta yang mereka saling beri." Menurut Nurcholish
Madjid, yang di tekankan dalam sabda Nabi tersebut adalah perasaan cinta kasih
antar sesama atas dasar ketulusan, semata-mata untuk mendekatkan diri kepada
Allah SWT.
---000----
CINTA KEPADA ALLAH
Reviewed by UKMI AL-FAJR
on
8:52 AM
Rating:
Reviewed by UKMI AL-FAJR
on
8:52 AM
Rating:

Tidak ada komentar: